Singapura Catat Kenaikan Pasien akibat Kabut Asap RI

RAKYAT MERDEKA —Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia mulai berdampak pada kondisi kesehatan masyarakat Singapura. Kementerian Kesehatan Singapura (MOH) melaporkan adanya sedikit peningkatan jumlah kunjungan pasien ke klinik dan instalasi gawat darurat (IGD) di tengah memburuknya kualitas udara.

Walaupun terjadi kenaikan kunjungan medis, MOH menegaskan belum menemukan kasus penyakit akut parah maupun kematian yang disebabkan oleh paparan kabut asap. Informasi tersebut disampaikan setelah kementerian mengumpulkan laporan dari sejumlah rumah sakit.

Juru bicara MOH menyatakan bahwa peningkatan kunjungan pasien masih tergolong sedikit. Namun, kementerian tidak merinci jumlah pasien yang datang untuk mendapatkan perawatan akibat gangguan kesehatan terkait kabut asap.

Peningkatan Pasien dengan Gangguan Pernapasan

Dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat Singapura juga terlihat dalam laporan mengenai hubungan antara polusi udara dan kunjungan pasien ke fasilitas kesehatan.

Pada akhir September, sebuah laporan menemukan adanya keterkaitan antara peningkatan konsentrasi partikel polutan PM2.5 dan bertambahnya kunjungan darurat akibat asma serta penyakit paru-paru.

Dalam laporan tersebut, setiap kenaikan konsentrasi PM2.5 sebesar 10 mikrogram per meter kubik di atas tingkat referensi berkaitan dengan peningkatan kunjungan darurat akibat asma dan penyakit paru-paru sebesar 3,2 persen dalam dua hari berikutnya.

Partikel PM2.5 merupakan polutan berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan partikel ini berpotensi memperburuk kondisi penderita penyakit pernapasan, terutama ketika konsentrasi polusi udara meningkat.

Sejumlah dokter dan tenaga medis di Singapura juga melaporkan bertambahnya pasien yang mengalami gejala berkaitan dengan kabut asap. Peningkatannya diperkirakan mencapai 20 hingga 30 persen.

Keluhan yang ditemukan cukup beragam, mulai dari pilek, sakit tenggorokan, bersin, iritasi mata, asma, hingga ruam kulit dan gangguan pernapasan.

Pelaksana tugas Direktur Medis Parkway Shenton, Sharon Ngoh, turut mengungkapkan adanya peningkatan kunjungan pasien pada Oktober dibandingkan dengan pertengahan September.

Menurut Sharon, jumlah pasien yang mengalami keluhan terkait kabut asap meningkat sekitar 30 persen. Ia menjelaskan bahwa dampak terhadap kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kondisi udara pada satu hari tertentu, tetapi juga oleh akumulasi paparan polusi selama beberapa waktu.

Sharon juga menyebut bahwa semakin banyak pasien mengeluhkan sakit kepala dan kelelahan yang berkaitan dengan paparan kabut asap.

Kualitas Udara Singapura Sempat Masuk Kategori Tidak Sehat

Kekhawatiran terhadap dampak kabut asap meningkat setelah kualitas udara Singapura masuk kategori tidak sehat pada 4 September. Kondisi tersebut menjadi yang pertama dalam tiga tahun terakhir.

Sejak saat itu, polusi udara terus menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat, terutama kelompok yang lebih rentan terhadap pencemaran udara.

Pada Selasa siang, indeks kualitas udara Singapura dilaporkan berada di kisaran 128 hingga 174, yang masuk kategori tidak sehat berdasarkan indeks yang digunakan dalam laporan tersebut.

Kondisi ini mendorong masyarakat untuk lebih memperhatikan tingkat polusi udara dan membatasi paparan ketika kualitas udara memburuk.

Paparan kabut asap dapat memicu iritasi pada mata dan tenggorokan, batuk, sakit kepala, serta memperburuk asma dan penyakit paru-paru yang sudah ada. Risiko gangguan kesehatan dapat meningkat ketika seseorang terpapar polusi dalam waktu lama.

Untuk mengurangi paparan, masyarakat dapat membatasi aktivitas berat di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menutup jendela saat kondisi udara di luar tidak sehat, serta menggunakan penyaring udara dalam ruangan jika tersedia.

Orang yang mengalami gangguan pernapasan atau memiliki penyakit paru-paru perlu lebih berhati-hati. Jika muncul sesak napas, nyeri dada, atau gejala berat lainnya, segera cari pertolongan medis.

Walaupun MOH Singapura belum melaporkan kasus kematian maupun pasien yang membutuhkan perawatan intensif akibat kabut asap, peningkatan kunjungan ke fasilitas kesehatan menunjukkan bahwa dampak polusi udara tetap perlu diwaspadai.

Related posts