Tidur Ideal Bukan Soal Jam, Ini Faktor Penentunya

RAKYAT MERDEKA — Banyak orang menganggap tidur selama delapan jam setiap malam merupakan standar terbaik untuk menjaga kesehatan. Anggapan tersebut memang didasarkan pada rekomendasi umum para ahli. Namun, kebutuhan tidur setiap orang ternyata tidak selalu sama sehingga durasi tidur ideal tidak bisa disamaratakan.

Tidur tak hanya sekadar waktu untuk beristirahat. Ketika seseorang terlelap, tubuh akan menjalankan berbagai proses penting yang berperan menjaga kesehatan fisik maupun mental. Karena itu, kualitas tidur memiliki peran yang tidak kalah penting dibandingkan lamanya waktu tidur.

Seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya pola hidup sehat, banyak orang mulai memanfaatkan jam tangan pintar atau aplikasi pelacak tidur untuk memantau durasi dan kualitas istirahat mereka. Tidak sedikit pula yang merasa khawatir jika waktu tidurnya tidak mencapai tujuh hingga delapan jam setiap malam.

Padahal, para ahli mengingatkan bahwa terlalu terpaku pada angka tertentu justru bisa menimbulkan tekanan tersendiri. Alih-alih mendapatkan tidur yang nyenyak, seseorang justru bisa merasa cemas karena khawatir belum memenuhi target waktu tidur yang dianggap ideal.

Durasi Tidur Tidak Bisa Disamaratakan

Selama tidur, tubuh melakukan berbagai proses pemulihan yang penting. Otot-otot memperbaiki diri setelah beraktivitas seharian, tekanan darah cenderung menurun, sementara otak bekerja membersihkan sisa metabolisme yang dapat memengaruhi fungsi saraf jika menumpuk.

Karena itulah, kurang tidur maupun tidur berlebihan sama-sama dikaitkan dengan meningkatnya risiko berbagai gangguan kesehatan. Kondisi tersebut dapat berdampak pada kebugaran tubuh, konsentrasi, hingga kesehatan jantung dan metabolisme.

Meski demikian, Direktur Pengobatan Perilaku Tidur di Universitas Pennsylvania, Michael Perlis, menjelaskan bahwa rekomendasi tidur selama tujuh hingga delapan jam hanya menjadi acuan umum. Menurutnya, kebutuhan tidur seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga tidak bisa diterapkan secara sama pada setiap individu.

Beberapa faktor yang memengaruhi kebutuhan tidur antara lain usia, jenis kelamin, kondisi kesehatan, aktivitas fisik dan mental sehari-hari, hingga kebiasaan seseorang saat terjaga. Semua aspek tersebut membuat kebutuhan tidur setiap orang bisa berbeda.

Kualitas Tidur Lebih Penting daripada Lamanya

Selain durasi, kualitas tidur menjadi faktor yang tidak kalah penting. Tidur dengan waktu yang lebih singkat tetapi berlangsung nyenyak dan dilakukan secara konsisten setiap malam dapat memberikan manfaat yang lebih baik dibandingkan tidur lebih lama namun sering terbangun atau memiliki jadwal yang berubah-ubah.

Sebagai contoh, seseorang yang tidur sekitar 6,5 jam setiap malam dengan pola yang teratur dan kualitas istirahat yang baik bisa saja memperoleh manfaat kesehatan yang lebih optimal dibandingkan orang yang tidur delapan jam tetapi sering terbangun, merasa gelisah, atau memiliki jam tidur yang tidak menentu.

Para ahli juga menilai menjaga rutinitas tidur yang konsisten membantu tubuh mengenali ritme biologisnya. Dengan demikian, tubuh akan lebih mudah memasuki fase tidur yang berkualitas dan bangun dalam kondisi lebih segar.

Daripada memaksakan diri mengejar durasi tidur tertentu, yang lebih penting adalah memastikan tubuh memperoleh istirahat yang cukup sesuai kebutuhannya. Jika setelah bangun tidur tubuh terasa bugar, mudah berkonsentrasi, dan tidak mengantuk berlebihan pada siang hari, hal itu bisa menjadi tanda bahwa kebutuhan tidur telah terpenuhi meski durasinya tidak selalu mencapai delapan jam.

Related posts